|
|
Dulu komik kita mengalahkan berita politik dan ekonomi. Kini jutaan
anak Indonesia menyukai
komik asing.
MATA Ozi tak berkedip. Ia asyik membaca komik Amerika Serikat terjemahan
di sebuah toko buku di kawasan Matraman, Jakarta. "Cerita dan gambarnya
seru," kata anak kelas II SMP itu kepada Anita P. Purba dari Gatra. Komik
Indonesia? "Bosan. Jalan ceritanya mudah diterka," katanya. Lalu,
ia larut lagi
membaca komik serial Petualangan Tintin. Di pojok lain, Mega membaca
komik Doraemon. Ketika disodori
sebuah komik Indonesia berjudul Bawang Merah, Bawang Putih, anak SD
itu mencibir. Nova, ibunya, mengaku bahwa Mega tak menyukai komik nasional
karena menjemukan. Misalnya, kerap diawali kalimat klise: "Pada zaman dahulu
kala, adalah seorang raja...," kata Nova sambil tertawa.
Kedua bocah itu tak tahu bahwa sebuah pameran komik Indonesia
dilangsungkan pada 6-12 Februari di Gedung Seni Rupa, Departemen P dan
K, Jakarta. Tapi secara tak langsung, mereka telah menyindir pekan komik
bertema
"Mencari Identitas Komik Indonesia" itu. Seperti jutaan anak Indonesia
lain, pastilah mereka bingung jika lantaran
menggemari komik asing, mereka dituduh tak nasionalis.
Lagi pula, jika mau jujur, komik kita banyak berisi tema-tema heroisme, dongengan, dan hikayat kuno. Padahal, anak-anak masa kini boleh disebut tak lagi mempunyai ikatan memori dengan hal semacam itu. Komik kita seperti melupakan anasir yang menghibur, lucu, dan konyol, lalu diselingi dengan pesan moral khas anak-anak.
Komik Kecoa, karya Yudi, Yaddie, Eri, dan Arief -pemenang sayembara komik tahun ini- patut dipuji. Komik itu mengisahkan seorang pengecut yang melihat kecoa pun menjerit. Tapi ketika berhasil membunuh rasa takutnya, anak muda itu berubah menjadi gagah berani saat melawan penjajah Jepang. Seorang pejuang sejati adalah mereka yang berani mengalahkan dirinya sendiri. Itulah moral ceritanya. Sayang, Kecoa masih berwarna hitam-putih, gambar-gambarnya ramai, dan pelit menyisakan ruang kosong.
Kita pun lalu teringat, Doraemon pun bukan pahlawan hebat dari Jepang.
Ia cuma seekor kucing ajaib, yang berteman dengan bocah Nobita yang biasa-biasa
saja. Mereka bukan putra dewa dari langit yang tak pernah salah. Ingat
pula, Clark Kent, wartawan Daily Planet yang bersembunyi dulu sebelum berubah
menjadi jagoan Superman. Setelah sukses mengalahkan para Penjahat, ia lalu
kembali menjadi orang biasa. Dalam data yang dikutip Gatra dari Elex Media
Komputindo, penerbit komik dari Kelompok Gramedia, tercatat: dari ratusan
judul komik yang mereka pasarkan, cuma 10% saja komik nasional. Itu pun
tak laris. Memang, merembesnya komik asing
bermula ketika banyak penerbit berlomba membeli lisensi komik asing
yang lebih murah ketimbang royalti komik kita pada 1980-an. Tapi kini,
"Komik kita tak lagi dilirik," kata komikus kondang, Jan Mintaraga, kepada
Koesworo Setiawan dari Gatra.
Ketua Masyarakat Komik Indonesia (MKI), Wahyu Sugianto, menilai bahwa ambisi -sebagaimana yang dicanangkan sebagai tema pameran tersebut- "Mencari Indentitas Komik Indonesia" hanya menjadi beban bagi komikus kita dalam bersaing dengan komik asing. Tapi menurut Dwi Koendoro, komikus yang terkenal dengan serial Sawung Kampret dan Panji Koming, komik tak sekadar menghibur, melainkan juga harus punya misi. Tanpa harus menjadi bak "petuah bergambar", komik haruslah tetap menyelipkan fungsi edukasi.
Tapi semulia apa pun misinya, komik harus disajikan dengan narasi dan gambar memikat. Sesuai dengan cerita, ekspresi tokohnya harus mampu menampilkan entah rasa takut, lelah, atau gembira -menyerupai sinematografi. Ada close up, long shot, dan urutan gambar yang enak. Menurut Dwi Koen, komik macam itu harus dikerjakan sebuah tim -ada yang piawai menulis teks, membuat ilustrasi, dan mewarnai- seperti yang dilakukan Arief dan kawan-kawan dengan Kecoa-nya.
Bagus sekali jika komik berdimensi ganda, yakni disukai anak-anak dan
orang dewasa yang juga mempunyai fantasi
anak-anak, misalnya komik Petualangan Tintin terbitan Indira. Logikanya,
orang dewasa yang pada masa kecilnya membaca komik Batman pastilah suka
juga menonton film Batman di layar lebar.
Pemindahan komik ke film ikut pula menciptakan pasar komik asing. Ia
makin booming karena tokoh cerita semacam
tokoh-tokoh kartun Walt Disney juga menyebar menjadi logo dan poster
yang menjadi benda-benda konsumsi anak-anak. Pola pemasaran macam itulah
yang membuat Dwi Koen melihat bahwa tema nasionalisme tetap relevan dalam
persaingan dengan komik asing.
Cuma, dengan harga kertas yang kini melangit, agaknya masa keemasan komik kita pada dasawarsa 1960 akan tetap tinggal nostalgia. Waktu itu, seperti diingat Jan Mintaraga, orang lebih dulu membaca komik yang dimuat bersambung di koran -sebelum membaca berita politik dan ekonomi. Entah kapan hal semacam itu akan terulang lagi.
Bersihar Lubis
|
|
Komik Underground adalah sebuah komik alternatif dari sekian banyajkj
tipikal komik yang ad. Underground menarik disimak karena keunikannya dan
gayanya yang Berbeda dari komik-komik pada umumnya. underground yang pada
umumnya lebih menitikberatkan pada eksplorasi seni ketimbang
nilai jualnya sebagai suatu komik. Sementara itu
masih ada pertanyaan perbedaan antara Underground komik dan Indie komik.
adalah dua prinsip yang berbeda dari pola pikir yang juga berbeda.
Kalaupun ada persamaannya terletak pada cara pembuatannya, yaitu perbanyakan
melalui fotocopy. Terlepas dari kosepsi daan teori-teorinya
ternyata mampu untuk memotivasi para komikus muda untuk lebih produktif
dalam berkarya selain lebih mudah dalam produksi.
|
|
Pernahkah anda mendengar pendapat-pendapat dan kritikan sebagai berikut:
- Wah, komik anda JEPANG sekali yach....bagus sich...tapi...
- Eh, ini khan mirip X-Men atau apa itu namanya,...mana Indonesianya?
- Nah, ini baru Komik INDONESIA,... kelihatan dari raut muka karakternya...
- Menarik juga komiknya, tapi bisa nggak sich bikin yang lebih INDONESIA
?
Kalau anda, pembaca yang terhormat kebetulan adalah pembuat komik,
saya
yakin anda sudah demikian seringnya mendengar pendapat seperti ini,
dan
kalau anda kebetulan adalah kritikus yang pernah berkomentar seperti
ini,
berikut ini untuk anda.
Sudah tidak dapat disangkal lagi bahwa Amerika adalah pelopor komik
modern
dunia melalui komik strip pertama kali dan berkembang sampai sekarang
menjadi mainstream komik dunia. Begitu pula Jepang dan Eropa dengan
stylenya
sendiri memimpin dunia perkomikan bersama Amerika di Bumi kita yang
kecil
ini. Dan tak terbantahkan bahwa bahkan hampir di segala bidang kehidupan
manusia, memang Amerika, Jepang dan
Eropa-lah penemu, pelopor dan mainstream-nya.
Saya akan mencoba membuat permisalan, Indonesia sudah pernah mendisain
dan
membuat kapal terbang sendiri bukan? Orang-orang menyebutnya itu adalah
Kapal Indonesia, dan adakah orang yang mengeritik itu kurang Indonesia-nya?
Padahal jelas-jelas teknologi
kapal itu, dari mesin turboprop-nya sampai komputer navigasinya adalah
teknologi yang berasal dari Eropa atau Amerika, tetapi diserap, digabung
dan
dikomposisi-kan sedimikan rupa sehingga tidak ada kapal lain yang menyamai
persis spesifikasinya.
Komik, yang mempunyai beragam style itu, memiliki banyak sekali spesifikasi
teknik dan gaya, sehingga dapat disebut juga sebagai teknologi. Dari
manakah
teknik gambar yang mengindahkan anatomi, perspektif, dan pengaturan
panel
dan komposisi yang
apik dan atraktif itu? Dari manakah teknik moving dan efek-efek
komik? Ok,
yang paling sederhana, darimanakah teknik balon teks? Segala teknik
itu
diambil dari luar karena komik modern memang bukan berasal dari Indonesia.
Sekarang mengenai keadaan di Indonesia, andaikan ada seorang komikus
yang
ingin membuat komik, tentu ia harus mempelajari segala aspek komik,
nah,
dari komik manakah ia belajar? Tentu mengambil referensi yang bagus
dan yang
secara pribadi ia suka.
Dan komik apakah yang ia pelajari? Tunggu,...biarkan saya menebak...komik
lembergar (maaf)?
Atau dari Spawn, Dragon Ball, 3x3 eyes, tintin dan asterix? Mungkin
bukan
dari semua itu tapi yang pasti adalah dari komik Amerika, Jepang atau
Eropa.
Komikus Indonesia yang bercita-cita untuk memajukan perkomikan di Indonesia
ini, dengan idealisme dan konsepnya masing-masing akan menggabungkan
segala
teknik dan style gambarnya itu menjadi suatu hybrid style gambar baru
yaitu
style gambar-nya yang dia harapkan
suatu saat akan diakui sebagai komik yang di akui keberadaannya di
INDONESIA. Apakah pengamat komik Indonesia akan menghambat komikus
dengan
kritikan-kritikan bahwa komiknya bukan komik INDONESIA hanya
karena
tokohnya tidak memakai blangkon dan berjubah merah putih
dan hanya karena settingnya bukan di gedung sate? Saya dan banyak
komikus
Indonesia lainnya siap berdebat untuk mengatakan tidak!
Memang ada pendapat yang mengatakan kalau keadaan seperti ini akan
menyebabkan komik Indonesia akan kehilangan jati dirinya dengan hanya
mengikuti, mengadaptasi dan kasarnya menyontek komik luar, dan akan
ditakutkan komik Indonesia hanya akan menjadi sejenis barang subtitusi
yang
sama saja bahkan lebih rendah mutunya dari komik luar
bukan menjadi komik tuan rumah yang mempunyai originalitas INDONESIA
yang
diakui oleh luar negeri.
Sebenarnya arah untuk melahirkan suatu hybrid style baru yang dapat
diakui
sebagai KOMIK INDONESIA itulah tujuan semua komikus Indonesia sekarang
, dan
bagaimanakah mencapai ke arah itu? Dengan mempelajari, mengadaptasi
dan
memperdalam komik yang sudah
jelas sukses dipasaran, dan memang bagus secara teknik maupun secara
estetis
itulah caranya. Kita dalam proses pembentukan, dalam proses penempaan
dan
pematangan skill, kita, artis-artis
Indonesia yang pemimpi ini ada dalam jalan menuju era Kesuksesan dan
Industrialisasi KOMIK INDONESIA seperti Amerika, Jepang dan Eropa.
Dan saat
itulah Style Komik Indonesia yang diakui oleh dunia akan terealisasi
dengan
sendirinya, dan mungkin akan menjadi mainstrem
baru, tapi itu situasi idealnya, realitanya adalah sekarang belum.
Jadi, untuk para kritikus atau yang sok pengritik komik, dengan segala
hormat, jika tak mau memberi oksigen, berilah kami kelonggaran bernafas.
Komikus Indonesia
Ricky
Nb. Dengan hormat, saya menunggu komnetar atau sanggahan dari para
pemerhati komik sekalian.(Essay ini juga dimuat di MAKO
8)